Pada malam ini, yakni malam selasa, bertepatan dengan tanggal 16
Oktober 2018, Allah memperjumpakan saya dengan seorang Ustadz tamatan pesantren
di Purba. Ustadz tersebut adalah seorang pekerja di Baitul Mal,
dan merupakan tetangga saya di Suka Makmur. Dimana sang Ustadz membuka pengajian kecil-kecilan
di rumah mertuanya untuk anak-anak kecil. Ustadz tersebut bercerita mengenai keyakinan,
ilmu al yaqin, yakin, ainul yaqin dan haaqul yakin (Ustadz menyebut 4 maqam). Menurut sang ustadz, dapat
saja kita sampai pada maqam ainul yaqin, itu sudah luar biasa.
Ustadz tersebut mengatakan bahwa kita tidak boleh bekerja hanya
untuk mengharapkan imbalan semata, apalagi imbalan dari manusia. Apalagi ketika
kita merasa bahwa keberhasilan yang kita peroleh adalah hasil dari jerih payah
kita. Ustadz tersebut mengatakan, tidak ada yang memberi bekasan, hanya
Allah yang memberi bekasan. Kita harus meyakni rizki itu dari Allah.
Kita hanya bekerja misalnya mengajar niat karena ingin bersedekah ilmu.
Soal balasan, kita serahkan dan kita kembalikan saja kepada Allah SWT.
Jika kita berbuat dosa, bertaubatlah. Rizki itu datangnya dari Allah dan
pintunya adalah sadakah.
Entah kenapa, saya bercerita kepada sang Ustadz perihal saya yang
semakin jauh dari keteladanan guru. Dimana guru-guru saya, ketika mengajar
mereka yakin saja bahwa mereka hanya mengajar karena Allah. Sedangkan saya
ketika mengajar malah menjadikan mengajar sebagai tugas pekerjaan semata. Saya
mengaku bahwa selama ini saya berfikir bahwa kesuksesan hidup saya tergantung
pada usaha, kepandaian dan ijazah yang saya miliki. Padahal semua itu adalah
syirik (dalam terminologi sufi). Yakni ketika kita meyakini ada pemberi bekas
selain dari Allah SWT.
Akhirnya saya sadar dan maklum. Saya harus mengembalikan sesuatu
kepada Allah, memperbaiki amalan, jangan takut berbagi ilmu dan pengabdian,
jangan terlalu menghitung-hitung pekerjaan, berserah diri, bertobat dan jangan lupa
bersedekah. Karena sedekah adalah pintu rizki. Demikian pencerahan dari Ustadz...

Comments
Post a Comment