Skip to main content

Ketika Bencana Harus Disukuri

Pada Malam Jum’at, 12 Oktober 2018 setelah Isya, rumah kontrakan kami digenangi air. Ketika itu istriku sedang pulang kampung dan aku sedang di luar rumah, Ratusan lembar berkas basah dan tidak dapat digunakan lagi. Printer rusak, dokumen-dokumen penting seperti ijazah istriku, buku nikah, kartu-kartu pengenal dan berbagai dokumen penting lainnya basah dan rusak. Buku-buku juga basah dan menggembung. Perkiraanku, sebagaian tidak dapat digunakan lagi. Kami tidak memiliki lemari atau meja, sehingga semua berkas diletakkan dilantai dan hanya beralaskan kertas koran. Dan pemilik rumah juga tidak mewanti-wanti kami bahwa rumah yang baru kami tepati 4 bulan itu rawan banjir, apalagi di musim hujan ini.

Peralatan dapur tergenang dan rasanya malam itu, disaat badan sedang kurang sehat, kacamata patah sehingga sulit untuk bekerja tanpa kacamata, berusaha mengangkat semua tikar plastik, mengeringkan air dan membersihkan lantai. Aku merasa malang, karena ditengah keadaanku yang miskin, gaji pekerjaan yang minim, dengan beban kerja yang berat, produktifitas menulisku yang menurun aku malah ditimpa bencana yang bertubi-tubi.

Aku, sebenarnya marah, kesal, dan ingin membawa parang ke rumah bapak yang menyewakan rumah. Padahal aku baru selesai mengganti KTP, dan tidak sempat menyusun berkas CPNS karena keadaan situasi sulit yang bertubi-tubi. Dalam seminggu ini, entah berapa kali aku bolak-balik antara Subulussalam, Srikayu dan Singkel karena menjenguk kedua orang tuaku yang berobat dan mengantar Istriku yang juga berobat. Ayahku mengalami stroke ringan dan sudah ditangani oleh seorang terapis di Singkel. Ibuku bersikeras supaya ayahku tidak dibawa ke dokter.

Akhirnya sang terapis juga mengobati ibuku. Aku kasihan ketika ibuku muntah-muntah saat diobati oleh terapis. Aku duduk disamping ibu setelah sebelumnya aku juga duduk di samping ayahku untuk menemani pengobatan mereka. Mereka diterapi di ruang tamu rumah singgah orang tuaku di Siti Ambia Singkel. Selamat sesi pengobatan, baik Ayah maupun ibuku, keduanya sama-sama mengerang kesakitan. Aku tahu rasanya pasti sakit sekali, aku bimbing mereka untuk pasrah menghadapi rasa sakit. Karena kedua orang tuaku adalah orang bertarekat, aku meminta kepada mereka untuk berabithah membayangkan wajah gurunya dan mengekalkan zikir Allah dalam hati. Aku membantu dengan melafalkan kalimah Allah, Allah, Allah dan menggosok-gosok bagian belakang punggung ayah dan ibuku. Aku menduga bahwa rasa sakit juga bisa diurai dengan rabithah guru dan zikir Allah. Selain itu, sentuhan dari orang-orang disekitar, juga mampu meringangkan rasa sakit.

Baiklah kita kembali kepada dokumen-dokumenku yang tidak bisa digunakan lagi. Aku jadi sadar dan berefleksi. Semua itu adalah dari Allah SWT. Aku ingat bagaimana derita warga Palu, Donggala maupun Lombok beberapa waktu yang lalu. Mereka harus memulia dari nol, ketika sumber penghidupan ekonominya luluh dan lantak. Sementara aku masih belum seberapa. Rumah banjir masih bisa kering. Dokumen-dokumen yang hilang sebagian besar masih ada soft file-nya. Ijazah Istriku, foto copian akreditas kami, dan berbagai dokumen sertifikat, walaupun babak belur tercelup air, masih bisa terbaca.

Aku agak bersedih ketika puluhan lembar makalah Abu Amran yang aku print hasil meminta dari kawan juga lenyap. Walaupun sebundel makalah yang kudapatkan pada tanggal 7 di Singkel berisi ratusan lembar makalah Abu Amran tidak basah. Alhamdulillah aku sangat bersyukur.

Ratusan lembar print out paper tulisan KBA yang kukoleksi basah dan tidak bisa digunakan. Begitupun print out dokumen tulisan Miswari juga musnah kecuali print out tesisnya. Beberapa artikel dari penulis lain juga demikian. Musnah dengan mengerikan. Aku terpaksa membuang semua itu.

Aku jadi ingat kisah imam Syafi’i, ketika ia dirampok dan buku-bukunya di rampas. Imam Syafi’i berusaha melawan meminta supaya bukunya dikembalikan. Karena disanalah ilmunya berada. Perampok kemudian menolak dan berkata, ilmu di dada bukan di buku. Aku sadar, selama ini aku terlalu sibuk mengkoleksi dan kurang membaca apalagi menguasainya. Aku akhirnya juga sadar, aku mulai jarang menulis. Jarang, mengabadikan hasil-hasil bacaanku dalam tulisan. Aku merasa nyaman dengan ilmu yang masih teronggok di dokumen atau buku. Dan Tuhan menegurku.

Mungkin ini juga merupakan teguran, betapa aku sering menganggap bahwa masa depan dan kehidupanku ditentukan oleh dokumen-dokumen berhargaku. Aku jadi sadar, disini dokumen berharga sekelas ijazah S2 bisa dihargai jauh lebih murah daripada gaji pekerja kasar yang tidak sekolah. Disini, entah apa yang dihargai. Yang jelas bukan ijazah, walaupun terkadang juga bukan ilmu.

Oh ya. Aku baru tahu bahwa disini yang dihargai hanya jabatan, kekuasaan, kekuatan politik dan jaringan bisnis. Disini orang menjadi berharga jika dia memiliki banyak jabatan, memiliki beking orang atas atau memiliki jaringan bisnis. Aku ingin mengubah semua itu, minimal dari presepsiku.

***

Ini adalah evaluasi bagiku. Aku harus mengubah presepsi bahwa aku tidak boleh terlalu mencintai sesuatu sehingga tidak sakit karena kehilangan. Aku harus lebih sering membaca bukuku, merefleksi isi tulisannya dan semakin berkarya. Terakhir, aku harus memiliki militansi yang tinggi untuk memperbaiki diri, khususnya dalam persoalan kedisiplinan dan ibadah. Aku tetap ingin memperbaiki diri.

***

Aku akhirnya mencoba untuk bersyukur saja. Aku ingat bagaimana di Palu orang harus kehilangan rumah dan seisinya, bahkan kehilangan nyawa. Aku harus masih bersyukur karena masih diberikan nyawa oleh Allah, masih diberikan kesempatan melanjutkan kehidupan normal. Aku juga berdo'a semoga Allah menguatkanku dalam kesabaran dan tidak membiarkan hawa nafsu menguasaiku.

Comments

Popular posts from this blog

TIDAK ADA YANG MEMBERI BEKAS KECUALI ALLAH

Pada malam ini, yakni malam selasa, bertepatan dengan tanggal 16 Oktober 2018, Allah memperjumpakan saya dengan seorang Ustadz tamatan pesantren di Purba. Ustadz tersebut adalah seorang pekerja di Baitul Mal, dan merupakan tetangga saya di Suka Makmur. Dimana sang Ustadz membuka pengajian kecil-kecilan di rumah mertuanya untuk anak-anak kecil. Ustadz tersebut bercerita mengenai keyakinan, ilmu al yaqin, yakin, ainul yaqin dan haaqul yakin (Ustadz menyebut 4 maqam) . Menurut sang ustadz, dapat saja kita sampai pada maqam ainul yaqin, itu sudah luar biasa. Ustadz tersebut mengatakan bahwa kita tidak boleh bekerja hanya untuk mengharapkan imbalan semata, apalagi imbalan dari manusia. Apalagi ketika kita merasa bahwa keberhasilan yang kita peroleh adalah hasil dari jerih payah kita. Ustadz tersebut mengatakan, tidak ada yang memberi bekasan, hanya Allah yang memberi bekasan. Kita harus meyakni rizki itu dari Allah . Kita hanya bekerja misalnya mengajar niat karena ingin bersedekah il...